Monday, 25 January 2010

Materi Pertemuan 2 Minggu ke-3


Kelas ini akan kita mulai dengan sesuatu yang agung. Sebuah berita Mulia dari Yang Maha Mulia. Surat Al-baqarah 30 akan menjadi pencerah kita. Di dalam surat itu jelas, malaikat tidak setuju (pada awalnya) tentang penciptaan manusia, yang menurut mereka pasti membuat kerusakan di atas dunia. Hanya saja Allah menunjukkan kelebihan manusia atas kehendak Allah. Salah satunya adalah kemampuan menyebutkan nama dari benda. Intinya manusia diberikan kemahiran tertentu oleh Allah untuk menjadi pemimpin di atas dunia ini.

Ayo kita berjalan-jalan sebentar ke Jepang. Ingat! berjalan-jalan dengan kesadaran penuh ke negeri matahari terbit, Jepang. Kita akan melihat bagaimana negeri yang luasnya hanya kurang lebih 1/6 Indonesia, bahkan lebih kecil dari pulau Sumatera. Namun negeri ini mempunyai tata kehidupan sosial yang terlihat sangat memanusiakan manusia.


Berbahagialah kaum tunanetra di Jepang. Di sepanjang trotoar tersedia garis kasar bertekstur sebagai panduan untuk tongkat pemandu. Di ujung setiap trotoar garis lurus ini berubah menjadi kotak kasar yang membuat tunanetra mengetahui bahwa di depan ada persimpangan atau ujung jalan. Di jalan Sudirman, Jakarta sudah dimulai pembuatan garis seperti ini.


Orang cacat atau sedang dalam perawatan medis yang tidak memungkinkan mereka berjalan normal juga diperhatikan. Di setiap perhentian kendaraan umum selalu dilengkapi jadwal kendaraan yang mampu mengangkut penumpang yang berkursi roda.

Termasuk pembuangan sampah di perumahan diatur harinya berdasarkan jenis sampahnya. Kesadaran akan kecilnya lahan yang mereka miliki melahirkan tindakan berhati-hati menjaga kesehatan tanah negerinya.



Bisa kita perhatikan bahwa untuk sisa minyak menggoreng saja tidak boleh dibuang sembarangan. Semua harus dikemas dan dibungkus untuk diangkut sesuai dengan hari yang telah ditentukan.
Tidaklah mengherankan bahwa tanah sangat berharga sehingga hasil pertanian juga menjadi sangat berharga. Lihatlah semangka dengan harga 3.980 Yen atau setara dengan Rp. 300.000 (jika 1 Yen = Rp. 100).

Penjelasan tentang Jepang ini bukanlah untuk menyantet diri sendiri (menyanjung negeri orang dan menjatuhkan negeri sendiri) apalagi untuk menghasilkan kata-kata: "Lihat negeri orang yang hebat dan coba lihat negeri kita yang amburadul" (amit-amit jabang beybeh... :D) Ingat! petualangan ini kita nikmati dengan kesadaran penuh!

Sehebat-hebatnya penduduk Jepang, mereka sangat mengagumi negeri kita, Indonesia! Dari statistik kunjungan, wisatawan mancanegara dari Jepang termasuk nomor dua setelah Australia. Untuk memudahkan warga negaranya di Indonesia, mereka membuat buku petunjuk khusus dalam bentuk komik tingtun (tinggal tunjuk).
Berisi berbagai informasi aktual dan kontekstual tentang Indonesia, dari bajaj hingga seragam anak SD Indonesia.

Termasuk panduan bagi warga Jepang yang akan membeli barang di toko Indonesia. Mereka dapat menggunakan gambar-gambar di komik ini untuk berkomunikasi hanya dengan menunjuk (tingtun - tinggal tunjuk). Gambar yang disajikan tersedia di dalam berbagai jenis toko untuk beragam jenis barang. Begitu seriusnya mereka untuk menemani petualangan warga negaranya di negeri lain, negeri indah yang menjadi tujuan wisata dunia.


Sementara banyak sekolah di negeri ini berkiblat ke luar negeri. Di Bali, serombongan warga mancanegara mendirikan sekolah yang kontekstual dan terintergrasi dengan alamnya. Menggunakan bahan alam sekitar, eksploitasi bambu yang memukau dan penggunaan lantai tanah. Sebuah indikasi yang perlu jadi perhatian warga Indonesia. Apa yang menarik mereka kemari? Magnet apa namanya?

Rasanya sudah sering kita mendengar rahasia bangsa-bangsa maju di dunia lengkap dengan kiat-kiat yang tentu perlu diperhatikan frame waktu dan kondisi di sekitar mereka.
Coba perhatikan bangsa Cina. Mereka memang bangsa yang senang berkeliling dunia. Hampir di setiap penjuru dunia ada pemukiman keturunan Cina. Begitu pula dengan kaum Yahudi dan Jepang. Lantas apa kiat terbaik untuk bangsa ini agar dapat meng-internasional?


Dari aset yang kita miliki: 17508 pulau, lengkap dengan 483 ragam budaya dan sejarah magnet hebat pemanggil warga dunia. Dapatlah kita ambil satu benang merah, kita harus menjadi tuan rumah yang baik, yang mengenal Indonesia secara utuh dengan santun dan pelayanan terbaik tanpa mau diinjak-injak.


Cobalah menelaah hebatnya ragam budaya Indonesia. Hanya dari satu bentuk coet (ulekan) jika dibangun pertanyaan yang benar, akan menghasilkan pembelajaran yang optimal. Pembelajaran kuat mengakar. Kemampuan menstrukturkan inilah yang termasuk dari kelebihan yang Allah berikan pada manusia yang membuat derajatnya mulia (wallahu 'alam bi sawab).

Dari sebuah bangunan rumah di Sumba saja, dengan penggalian pertanyaan yang benar akan menghasilkan banyak pembelajaran yang akan mencengangkan. Cerita khas inilah yang menjaga identitas sebuah daerah. Berada di suatu tempat tanpa tahu cerita asli tempat itu membuat kita asing dan tidak "merasa" di tempat yang berbeda.
Kujang dengan bentuk ajaibnya ternyata menyimpan banyak filosofi dan fungsi hebat. Ada lubang untuk menyerut lidi sekaligus sebagai alat ukur astronomis untuk menentukan musim tanam.

Bayangkan berapa banyak ilmu yang tersebar di bumi Indonesia ini yang menanti petualang muda dengan kesadaran penuh untuk menggali dan memanfaatkannya.



Seorang teman pernah bercerita tentang orang asing yang datang membuat pertanian di Nusa Tenggara menggunakan kitab primbon sebagai acuan. Cara pandang kita, kacamata kita yang berbeda dengan mereka. Kita kuat di tahayul dan tabir-tabir klenik gerbang kebodohan. Mereka melihat primbon sebagai satu pengalaman kontekstual yang terstruktur dari masyarakat tradisional Indonesia.


Jadilah tuan rumah yang baik. Untuk jadi tuan rumah, engkau harus mengenal baik rumahmu sedetil-detilnya. Ayo berpetualang!

Kamus:
Acuan = sesuatu yang menjadi contoh atau dasar dari suatu tindakan.
Arif = sifat bijaksana, akhlak mulia, pribadi yang matang.
Aktual = sesuai dengan jamannya, sesuai dengan perkembangan jaman.
Indikasi = hal-hal yang dapat menyimpulkan sesuatu ada atau tidak ada.
Kontekstual = sesuai dengan keadaan sekitarnya / budayanya / dimensi waktunya.
Struktur = rangkaian pembangunan sesuatu yang membuat kokoh atau kuat.

No comments:

Post a Comment