Semua harus dimulai dengan yang terbaik. Pertemuan ini dimulai dengan membaca surat Al Quraisy. Surat yang menceritakan sifat istimewa orang-orang yang senang “bergerak” menjelajah tak kenal musim. Wajarlah mereka menjadi suku yang cukup terpandang diMekkah.
Allah juga telah menciptakan sarana ajaib untuk kebiasaan bepergian di padang pasir. Allah ciptakan unta sebagai hewan yang diberi kecanggihan khusus untuk dimanfaatkan penduduk gurun pasir.
http://aditcenter.wordpress.com
/2008/06/16/perhatikanlah-keajaiban-unta/
Allah sangat menyukai hambaNya yang mau berjalan di atas bumi ini. Untuk menemukan ayat-ayatNya yang tersebar di penjuru alam. John Lovelock dan Lyn Marquiis menyederhanakan pembagian alam sehingga kita dapat memaknai seluruh kejadian yang ada dan tidak hanya menjadi penonton saja.
Alam yang terus berjalan dan berputar akan lebih indah bila dimaknai oleh orang-orang yang mau terus "berjalan" untuk membuktikan kebesaran-kebesaran Illahi.
Untuk memudahkan perjalanan, kita akan menggunakan peta besar tentang pergerakan alam beserta interaksi manusianya lengkap dengan hasil / akibat dari interaksinya. Jika ingin mempelajari detail dari proses bentang alam dapat dicari di rumpun Math and Science. Jika ingin mempelajari detail hubungan antarmanusia dapat dicari di rumpun Social Studies.
Ilmu sejati akan didapat oleh para petualang yang mampu bersahabat dengan alam. Ayo berpetualang!
Seorang petualang akan berbeda dengan penonton. Petualang akan menikmati proses sebuah perjalanan. Jarak bukanlah garis lurus antar dua titik, tapi jarak adalah sebuah proses pengenalan sekitar dan proses asik di antara perjalanan.
Seorang penonton hanya bisa mengagumi perubahan malam dan siang tapi tidak dapat mengambil maknanya untuk menambah kualitas hidup mereka.
Membuat peta sederhananya adalah membuat acuan dari satu titik berangkat menuju titik tujuan dilengkapi dengan kesamaan acuan. Arah utara adalah acuan utama untuk sebuah peta. Utara selalu berada di atas. Barulah ada penanda yang disepakati bersama (landmark).
Terbayang sulitnya bertanya arah jika kesepakatan arah tidak jelas. "Di mana rumah pak RT? Jalan terus ada warung belok kanan." Bagus kalau warungnya ada 1, kalau ada 12 apa jadinya?
Peta yang rinci akan memudahkan petualangan ditambah dengan alat navigasinya. Kompas adalah peralatan minimal seorang petualang.
Contoh arah yang terbaik adalah keraton Yogya. Mereka telah mengenal arah Utara dan Selatan melalui bangunan utama yang menjadi garis imajiner. Utara gunung merapi, Selatan laur selatan, sehingga orang dapat mudah menentukan Timur dan Barat dengan patokan yang jelas.
http://jogjakini.wordpress.com/2007/12/11/poros-imajiner-gunung-merapi-tugu-kraton-kandang-menjangan-%E2%80%93-parangkusumo/Coba kita kembali melihat bagaimana bangsa lain terpesona dengan keindahan negeri ini sehingga mereka rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk menuju tempat indah ini. Berbagai julukan indah mereka berikan pada negeri ini. Satu pertanyaan besar: Apa sih tujuan utama mereka datang kemari? Rempah-rempah? Itu yang selama ini kita dengar.
Coba kita lihat timeline awal masuknya bangsa asing ke Indonesia. Jauh sebelum mereka datang, kita adalah bangsa besar yang sudah makmur dan sentosa. Jadi mereka datang ketika kita dalam keadaan makmur.
Terbukti dari gambar yang mereka buat. Hasil dari kagum pada pesona negeri indah dengan penduduknya yang ramah. Lihatlah bagaimana mereka perahu penuh dengan penumpangnya yang bersuka cita, bernyanyi-nyanyi lepas di tanah subur dan perairan indah.
Bangsa asing ternyata datang untuk menetap, karena tempat indah ini dapat menjanjikan kehidupan "surga dunia" untuk mereka. Mereka bukan hanya mengambil hasil alamnya, tetapi juga ingin merebut negeri ini dan menjadikan negeri mereka. Walaupun harus menempuh perjalanan berat penuh tantangan.
Bukti dari semangat para penjelajah yang kenal putus asa, walaupun peta yang digunakan masih belum akurat. Petualangan yang menjanjikan kenikmatan yang luar biasa. Ayo temukan rahasia besar kebangkitan bangsa ini dengan petualangan geografi.
Ironisnya bangsa ini belumlah menemukan banyak keindahan sebagaimana para pendatang yang "rebutan" ingin menguasai negeri ini. Salah satu sebabnya adalah minimnya pengetahuan dan wawasan. Biasanya sesuatu yang sudah biasa ada akan terasa berharga ketika kita kehilangannya.
Kebanggaan yang mengawali sifat ingin melestarikan dan memberi manfaat untuk sekitarnya. Inilah yang dimaksud dengan kesadaran penuh.
Teruslah berpetualang! Menyebarlah di muka bumi ini! Hai jiwa muda, kemasi bekalmu terus berpetualang! Menyebarlah di muka bumi ini! Yakinlah, gambar-foto-film tidak akan seindah aslinya jika engkau berjalan dengan kesadaran penuh.


No comments:
Post a Comment