Saturday, 30 January 2010

Penjelajah

Hari ini, kata-kata penjelajah tidaklah terbatas hanya pada kegiatan fisik yang bergerak dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk menjelajah di dunia maya hanya dengan satu sentuhan saja.

Ada milyaran informasi yang tersedia di dunia ini. Tetapi ingatlah, jiwa-jiwa muda! Kalian bisa mendapatkan informasi tapi hanya sedikit saja yang mampu menjadikannya ilmu pengetahuan. Dari sebagian kecil itu juga perlu perjuangan untuk membuat ilmu menjadi kearifan.

Arif, bijaksana, atau akhlak mulia adalah tujuan dari pembelajaran apapun di dunia ini. Orang bijaksana akan berpikir besar, tidak terkotak-kotak dan sempit, sehingga mampu membuat setetes keburukan menjadi sebelanga kebaikan.


Menjelajahlah dan gunakan dunia maya ini menjadi petualangan yang mengasyikan. Ingatlah untuk terus dalam kesadaran yang penuh.


Ada lebih dari 500 mesin pencari (search engine) yang siap membantumu.

Monday, 25 January 2010

Materi Pertemuan 2 Minggu ke-3


Kelas ini akan kita mulai dengan sesuatu yang agung. Sebuah berita Mulia dari Yang Maha Mulia. Surat Al-baqarah 30 akan menjadi pencerah kita. Di dalam surat itu jelas, malaikat tidak setuju (pada awalnya) tentang penciptaan manusia, yang menurut mereka pasti membuat kerusakan di atas dunia. Hanya saja Allah menunjukkan kelebihan manusia atas kehendak Allah. Salah satunya adalah kemampuan menyebutkan nama dari benda. Intinya manusia diberikan kemahiran tertentu oleh Allah untuk menjadi pemimpin di atas dunia ini.

Ayo kita berjalan-jalan sebentar ke Jepang. Ingat! berjalan-jalan dengan kesadaran penuh ke negeri matahari terbit, Jepang. Kita akan melihat bagaimana negeri yang luasnya hanya kurang lebih 1/6 Indonesia, bahkan lebih kecil dari pulau Sumatera. Namun negeri ini mempunyai tata kehidupan sosial yang terlihat sangat memanusiakan manusia.


Berbahagialah kaum tunanetra di Jepang. Di sepanjang trotoar tersedia garis kasar bertekstur sebagai panduan untuk tongkat pemandu. Di ujung setiap trotoar garis lurus ini berubah menjadi kotak kasar yang membuat tunanetra mengetahui bahwa di depan ada persimpangan atau ujung jalan. Di jalan Sudirman, Jakarta sudah dimulai pembuatan garis seperti ini.


Orang cacat atau sedang dalam perawatan medis yang tidak memungkinkan mereka berjalan normal juga diperhatikan. Di setiap perhentian kendaraan umum selalu dilengkapi jadwal kendaraan yang mampu mengangkut penumpang yang berkursi roda.

Termasuk pembuangan sampah di perumahan diatur harinya berdasarkan jenis sampahnya. Kesadaran akan kecilnya lahan yang mereka miliki melahirkan tindakan berhati-hati menjaga kesehatan tanah negerinya.



Bisa kita perhatikan bahwa untuk sisa minyak menggoreng saja tidak boleh dibuang sembarangan. Semua harus dikemas dan dibungkus untuk diangkut sesuai dengan hari yang telah ditentukan.
Tidaklah mengherankan bahwa tanah sangat berharga sehingga hasil pertanian juga menjadi sangat berharga. Lihatlah semangka dengan harga 3.980 Yen atau setara dengan Rp. 300.000 (jika 1 Yen = Rp. 100).

Penjelasan tentang Jepang ini bukanlah untuk menyantet diri sendiri (menyanjung negeri orang dan menjatuhkan negeri sendiri) apalagi untuk menghasilkan kata-kata: "Lihat negeri orang yang hebat dan coba lihat negeri kita yang amburadul" (amit-amit jabang beybeh... :D) Ingat! petualangan ini kita nikmati dengan kesadaran penuh!

Sehebat-hebatnya penduduk Jepang, mereka sangat mengagumi negeri kita, Indonesia! Dari statistik kunjungan, wisatawan mancanegara dari Jepang termasuk nomor dua setelah Australia. Untuk memudahkan warga negaranya di Indonesia, mereka membuat buku petunjuk khusus dalam bentuk komik tingtun (tinggal tunjuk).
Berisi berbagai informasi aktual dan kontekstual tentang Indonesia, dari bajaj hingga seragam anak SD Indonesia.

Termasuk panduan bagi warga Jepang yang akan membeli barang di toko Indonesia. Mereka dapat menggunakan gambar-gambar di komik ini untuk berkomunikasi hanya dengan menunjuk (tingtun - tinggal tunjuk). Gambar yang disajikan tersedia di dalam berbagai jenis toko untuk beragam jenis barang. Begitu seriusnya mereka untuk menemani petualangan warga negaranya di negeri lain, negeri indah yang menjadi tujuan wisata dunia.


Sementara banyak sekolah di negeri ini berkiblat ke luar negeri. Di Bali, serombongan warga mancanegara mendirikan sekolah yang kontekstual dan terintergrasi dengan alamnya. Menggunakan bahan alam sekitar, eksploitasi bambu yang memukau dan penggunaan lantai tanah. Sebuah indikasi yang perlu jadi perhatian warga Indonesia. Apa yang menarik mereka kemari? Magnet apa namanya?

Rasanya sudah sering kita mendengar rahasia bangsa-bangsa maju di dunia lengkap dengan kiat-kiat yang tentu perlu diperhatikan frame waktu dan kondisi di sekitar mereka.
Coba perhatikan bangsa Cina. Mereka memang bangsa yang senang berkeliling dunia. Hampir di setiap penjuru dunia ada pemukiman keturunan Cina. Begitu pula dengan kaum Yahudi dan Jepang. Lantas apa kiat terbaik untuk bangsa ini agar dapat meng-internasional?


Dari aset yang kita miliki: 17508 pulau, lengkap dengan 483 ragam budaya dan sejarah magnet hebat pemanggil warga dunia. Dapatlah kita ambil satu benang merah, kita harus menjadi tuan rumah yang baik, yang mengenal Indonesia secara utuh dengan santun dan pelayanan terbaik tanpa mau diinjak-injak.


Cobalah menelaah hebatnya ragam budaya Indonesia. Hanya dari satu bentuk coet (ulekan) jika dibangun pertanyaan yang benar, akan menghasilkan pembelajaran yang optimal. Pembelajaran kuat mengakar. Kemampuan menstrukturkan inilah yang termasuk dari kelebihan yang Allah berikan pada manusia yang membuat derajatnya mulia (wallahu 'alam bi sawab).

Dari sebuah bangunan rumah di Sumba saja, dengan penggalian pertanyaan yang benar akan menghasilkan banyak pembelajaran yang akan mencengangkan. Cerita khas inilah yang menjaga identitas sebuah daerah. Berada di suatu tempat tanpa tahu cerita asli tempat itu membuat kita asing dan tidak "merasa" di tempat yang berbeda.
Kujang dengan bentuk ajaibnya ternyata menyimpan banyak filosofi dan fungsi hebat. Ada lubang untuk menyerut lidi sekaligus sebagai alat ukur astronomis untuk menentukan musim tanam.

Bayangkan berapa banyak ilmu yang tersebar di bumi Indonesia ini yang menanti petualang muda dengan kesadaran penuh untuk menggali dan memanfaatkannya.



Seorang teman pernah bercerita tentang orang asing yang datang membuat pertanian di Nusa Tenggara menggunakan kitab primbon sebagai acuan. Cara pandang kita, kacamata kita yang berbeda dengan mereka. Kita kuat di tahayul dan tabir-tabir klenik gerbang kebodohan. Mereka melihat primbon sebagai satu pengalaman kontekstual yang terstruktur dari masyarakat tradisional Indonesia.


Jadilah tuan rumah yang baik. Untuk jadi tuan rumah, engkau harus mengenal baik rumahmu sedetil-detilnya. Ayo berpetualang!

Kamus:
Acuan = sesuatu yang menjadi contoh atau dasar dari suatu tindakan.
Arif = sifat bijaksana, akhlak mulia, pribadi yang matang.
Aktual = sesuai dengan jamannya, sesuai dengan perkembangan jaman.
Indikasi = hal-hal yang dapat menyimpulkan sesuatu ada atau tidak ada.
Kontekstual = sesuai dengan keadaan sekitarnya / budayanya / dimensi waktunya.
Struktur = rangkaian pembangunan sesuatu yang membuat kokoh atau kuat.

Materi Pertemuan 1 Minggu ke-2



Semua harus dimulai dengan yang terbaik. Pertemuan ini dimulai dengan membaca surat Al Quraisy. Surat yang menceritakan sifat istimewa orang-orang yang senang “bergerak” menjelajah tak kenal musim. Wajarlah mereka menjadi suku yang cukup terpandang diMekkah.

Allah juga telah menciptakan sarana ajaib untuk kebiasaan bepergian di padang pasir. Allah ciptakan unta sebagai hewan yang diberi kecanggihan khusus untuk dimanfaatkan penduduk gurun pasir.

http://aditcenter.wordpress.com

/2008/06/16/perhatikanlah-keajaiban-unta/

Allah sangat menyukai hambaNya yang mau berjalan di atas bumi ini. Untuk menemukan ayat-ayatNya yang tersebar di penjuru alam. John Lovelock dan Lyn Marquiis menyederhanakan pembagian alam sehingga kita dapat memaknai seluruh kejadian yang ada dan tidak hanya menjadi penonton saja.

Alam yang terus berjalan dan berputar akan lebih indah bila dimaknai oleh orang-orang yang mau terus "berjalan" untuk membuktikan kebesaran-kebesaran Illahi.

Untuk memudahkan perjalanan, kita akan menggunakan peta besar tentang pergerakan alam beserta interaksi manusianya lengkap dengan hasil / akibat dari interaksinya. Jika ingin mempelajari detail dari proses bentang alam dapat dicari di rumpun Math and Science. Jika ingin mempelajari detail hubungan antarmanusia dapat dicari di rumpun Social Studies.

Ilmu sejati akan didapat oleh para petualang yang mampu bersahabat dengan alam. Ayo berpetualang!

Seorang petualang akan berbeda dengan penonton. Petualang akan menikmati proses sebuah perjalanan. Jarak bukanlah garis lurus antar dua titik, tapi jarak adalah sebuah proses pengenalan sekitar dan proses asik di antara perjalanan.

Seorang penonton hanya bisa mengagumi perubahan malam dan siang tapi tidak dapat mengambil maknanya untuk menambah kualitas hidup mereka.

Membuat peta sederhananya adalah membuat acuan dari satu titik berangkat menuju titik tujuan dilengkapi dengan kesamaan acuan. Arah utara adalah acuan utama untuk sebuah peta. Utara selalu berada di atas. Barulah ada penanda yang disepakati bersama (landmark).

Terbayang sulitnya bertanya arah jika kesepakatan arah tidak jelas. "Di mana rumah pak RT? Jalan terus ada warung belok kanan." Bagus kalau warungnya ada 1, kalau ada 12 apa jadinya?

Peta yang rinci akan memudahkan petualangan ditambah dengan alat navigasinya. Kompas adalah peralatan minimal seorang petualang.

Contoh arah yang terbaik adalah keraton Yogya. Mereka telah mengenal arah Utara dan Selatan melalui bangunan utama yang menjadi garis imajiner. Utara gunung merapi, Selatan laur selatan, sehingga orang dapat mudah menentukan Timur dan Barat dengan patokan yang jelas.

http://jogjakini.wordpress.com/2007/12/11/poros-imajiner-gunung-merapi-tugu-kraton-kandang-menjangan-%E2%80%93-parangkusumo/

Coba kita kembali melihat bagaimana bangsa lain terpesona dengan keindahan negeri ini sehingga mereka rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk menuju tempat indah ini. Berbagai julukan indah mereka berikan pada negeri ini. Satu pertanyaan besar: Apa sih tujuan utama mereka datang kemari? Rempah-rempah? Itu yang selama ini kita dengar.

Coba kita lihat timeline awal masuknya bangsa asing ke Indonesia. Jauh sebelum mereka datang, kita adalah bangsa besar yang sudah makmur dan sentosa. Jadi mereka datang ketika kita dalam keadaan makmur.

Terbukti dari gambar yang mereka buat. Hasil dari kagum pada pesona negeri indah dengan penduduknya yang ramah. Lihatlah bagaimana mereka perahu penuh dengan penumpangnya yang bersuka cita, bernyanyi-nyanyi lepas di tanah subur dan perairan indah.

Bukannya kita tidak bisa menjelajah jauh, terbukti dengan kapal-kapal besar nusantara yang sudah merajai samudra nusantara. Kenyataannya negeri ini sudah membuat betah penduduknya.


Bangsa asing ternyata datang untuk menetap, karena tempat indah ini dapat menjanjikan kehidupan "surga dunia" untuk mereka. Mereka bukan hanya mengambil hasil alamnya, tetapi juga ingin merebut negeri ini dan menjadikan negeri mereka. Walaupun harus menempuh perjalanan berat penuh tantangan.

Bukti dari semangat para penjelajah yang kenal putus asa, walaupun peta yang digunakan masih belum akurat. Petualangan yang menjanjikan kenikmatan yang luar biasa. Ayo temukan rahasia besar kebangkitan bangsa ini dengan petualangan geografi.




Ironisnya bangsa ini belumlah menemukan banyak keindahan sebagaimana para pendatang yang "rebutan" ingin menguasai negeri ini. Salah satu sebabnya adalah minimnya pengetahuan dan wawasan. Biasanya sesuatu yang sudah biasa ada akan terasa berharga ketika kita kehilangannya.

Ketika menyebutkan kata: Indonesia, kebanyakan dari kita gagal membuat gambar yang jelas tentang keindahan dan kemakmurannya. Banyak faktor yang mempengaruhi, mulai dari masukan informasi negatif di berbagai media setiap harinya hingga hasrat berjalan di muka bumi Indonesia yang kian lama kian mengendur. Jika pun ada perjalanan yang dilakukan tidak mampu mengisi relung kepribadiannya untuk bangga pada bangsanya.
Kebanggaan yang mengawali sifat ingin melestarikan dan memberi manfaat untuk sekitarnya. Inilah yang dimaksud dengan kesadaran penuh.


Teruslah berpetualang! Menyebarlah di muka bumi ini! Hai jiwa muda, kemasi bekalmu terus berpetualang! Menyebarlah di muka bumi ini! Yakinlah, gambar-foto-film tidak akan seindah aslinya jika engkau berjalan dengan kesadaran penuh.

Lengkapi peta perjalanan hidupmu dengan landmark-landmark agung persembahanmu untuk peradaban.